Wednesday, February 12, 2025
Jembatan Uwentira dipercaya sebagai pintu ke dunia lain.
Ngata Uwentira yang
berarti kota tak kasatmata atau tidak terlihat. Nama ini diambil dari kata
Uventira, dalam bahasa Suku Kaili bermakna air berwarna merah. Letak kampung
ini berada di pegunungan antara Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong,
Sulawesi Tengah.Keberadaan Uwentira mulai dibicarakan sejak zaman penjajahan
VOC Belanda. Banyak kepercayaan menyebutkan bahwa Uwentira merupakan Benua
Atlantis yang hilang. Selain itu, kampung Uwentira juga dijuluki kerajaan gaib
terbesar di Indonesia dengan penguasa raja jin yang membangun istana
megah.Koordinator Komunitas Historia Sulawesi Tengah, Moh Herianto menjelaskan,
awalnya Uwentira ditandai dengan adanya sebuah jembatan buatan Belanda yang
merupakan bagian dari proyek besar pembuatan jalan di bagian leher Pulau
Sulawesi atau yang kini disebut Jalan Trans Sulawesi.Pengerjaannya diresmikan
oleh A.C.D de Graeff selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 19
September 1927. Proyek prestisius itu dikomandoi oleh Jusuf Radja Tiangso.Sebuah
dokumen Onder Afdeeling Paloe menunjukkan gambar jembatan kayu yang berada di
Uwentira dikerjakan oleh pekerja Tionghoa pada tahun 1933."Bersamaan
jembatan tersebut pula, Pemerintah Belanda membuat sebuah pasanggrahan yang
disebut dengan Kebun Kopi,” terangnya saat berbincang dengan IDN Times di Palu,
Rabu (14/4/2021).
1.
Sekelumit cerita tentang asal nama Uwentira
dua pendapat terkait asal
penamaan Uwentira. Pendapat pertama, nama Uventira berasal dari dua kata yaitu
Uve artinya air dan Ra'a yang artinya darah.Herianto mengatakan, nama Uwentira
dilatarbelakangi oleh peperangan yang terjadi pada zaman lampau. Nama itu juga
berkaitan dengan daerah lainnya yang berada di sekitar Uwentira yaitu
Karopua. “Artinya takluk, salah satu pihak yang bertikai dalam perang
itu,” tutur Herianto.Pendapat kedua, kata Herianto, mengasumsikan bahwa
Uwentira adalah penggabungan kata dalam bahasa Suku Kaili. Yaitu Tira Nu Uwe,
yang artinya Pelangi. Dulunya daerah tersebut sering terjadi hujan lokal yang
menimbulkan pelangi." Sebenarnya
masih banyak asumsi lain dari orang-orang tua dulu selain dua hal ini,"
ucapnya.

0 comments:
Post a Comment