Saturday, May 3, 2025
Dr. H. Suaib Djafar, M.Si
UWENTIRA, sebuah nama yang sarat
akan mitos dan misteri, dikenal sebagai kota gaib oleh masyarakat di Sulawesi
Tengah. Terletak di Kabupaten Donggala, kisah Uwentira diwariskan secara
turun-temurun, membentuk bagian dari folklore masyarakat Kaili dan sekitarnya.
Legenda Awal Mula Uwentira
Menurut cerita rakyat, wilayah
Palu dan sekitarnya dahulu adalah bagian dari dasar laut. Suatu ketika, di
daerah Nupabomba, Kecamatan Tavaili, muncul seorang ibu bersama bayi mungil
yang cantik. Ia meletakkan bayinya di atas batu di tengah hutan belantara, lalu
kembali ke dasar laut. Kepergiannya yang tergesa-gesa meninggalkan tanda tanya
besar.
Bayi itu, dengan keajaiban yang
sulit dijelaskan, tumbuh dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat, ia berubah
menjadi seorang perempuan dewasa yang cantik. Ia tinggal sendiri di hutan yang
disebut Uwentira, di mana makanan dan buah-buahan tersedia secara ajaib.
Di sisi lain hutan, seorang
lelaki pemburu tiba-tiba bertemu dengan perempuan itu. Dengan penuh
kehati-hatian, lelaki itu mendekati dan menyapa perempuan yang berambut panjang
dan mengenakan baju kuning. Setelah berkenalan, perempuan itu mengajak lelaki
tersebut ke tempat tinggalnya, namun dengan satu syarat: lelaki itu harus
memilih antara dua jenis makanan, yaitu paipulu putih (ketan putih) atau
paipulu kuni (ketan kuning).
Lelaki itu memilih paipulu kuni.
Tak lama kemudian, hanya dengan beberapa langkah, mereka tiba di pintu gerbang
istana Kota Uwentira yang megah. Lelaki itu akhirnya mempersunting perempuan
tersebut dan hidup bersama di kota gaib tersebut.
Uwentira: Kota Gaib yang Penuh
Misteri
Konon, Uwentira adalah kota tak
kasat mata yang dipercaya berada di antara Donggala dan Parigi Moutong. Banyak
yang meyakini bahwa kota ini dihuni oleh makhluk halus atau jin. Pada hari-hari
tertentu, masyarakat melaporkan mendengar suara riuh seperti pesta atau melihat
cahaya misterius dari arah hutan.
Tradisi lokal menyarankan para
pengendara yang melintasi wilayah tersebut untuk membunyikan klakson sebagai
tanda permisi. Hal ini diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada penghuni
gaib Uwentira, sehingga perjalanan mereka tetap aman.
Pesan Moral dan Kearifan Lokal
Kisah Uwentira mengandung pesan
moral yang mendalam. Pertama, pentingnya menghormati semua ciptaan Tuhan, baik
yang terlihat maupun tidak terlihat. Kedua, menjaga kelestarian hutan sebagai
sumber kehidupan dan harmoni bagi alam semesta.
Masyarakat Kaili telah lama
menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, seperti menjaga tutur kata, sikap
ramah, serta saling menghargai. Prinsip ini menciptakan kehidupan yang damai
dan sejahtera, harmonis dengan alam dan sesama makhluk hidup.
Keanehan saat Shooting Film
Uwentira
Terjadi sejumlah keanehan saat
Shooting Film Uwentira. Seperti yang diceritakan kru bahwa saat naik ke puncak
uwentira, tim ada sekitar 6 orang, akan tetapi begitu sampai di kaki gunung
uwentira. Tiba-tiba menjadi 7 orang, karena ada satu orang pemuda yang datang
dan mengatakan kalau dia disuruh untuk mengawal tim sampai ke kuburan 3. Sampai
di sana, tim mulai shooting dan banyak suara suara yang bermunculan, seperti
terompet kapal, burung yang besar sekali melebihi elang. Setelah selesai
shooting, tim pulang dan saling bertanya. Siapa pemuda tadi itu. Semua tim
kaget, karena tidak ada satu pun yang kenal. Setelah dari situ mulai tampak keganjilan-keganjilan,
seperti wajah sutradara berubah selama 3 hari, tv menyala sendiri, kran air
menyala sendiri, dan gagang pintu di buka, pas di lihat tidak ada orang.
Keganjilan lainnya saat shooting
di daerah tambing, sutradara kayak kemasukan. Dan Banyak keanehan-keanehan yang
terjadi lainnya, seperti sutradara melihat langsung kota di Danau tambing yang
masih berhubungan dengan uwentira. Adapula keganjilan-keganjilan dimana teman
yang terkunci dalam kamar mandi, sedangkan pintu kamar dikunci dari dalam,
terpaksa tim rusak pintunya kamar dan membuka pintu kamar mandi yang terkunci
tersebut.
Kesimpulan
Uwentira bukan sekadar mitos,
tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Sulawesi Tengah. Cerita ini
mengajarkan kita untuk menghormati alam, memelihara hubungan yang baik dengan
sesama, serta menjaga warisan leluhur. Dalam dunia modern sekalipun, legenda
seperti Uwentira mengingatkan kita akan pentingnya menjaga nilai-nilai kearifan
lokal.(*)
Sumber : DISINI

0 comments:
Post a Comment