Saturday, May 3, 2025
PALU, METROSULAWESI.NET- Dalam
dunia perfilman Indonesia yang semakin dinamis, hadir sebuah karya baru
bertajuk "Uwentira", sebuah film yang mengangkat kisah penuh makna
dari wilayah Sulawesi Tengah.
Film ini disutradarai oleh Suaif
Djafar yang juga bertindak sebagai direktur eksekutif. "Uwentira"
bukan sekadar film biasa. Ia menjadi medium untuk mempromosikan budaya,
pariwisata, dan kearifan lokal yang jarang terekspos.
"Uwentira" mengisahkan
perjalanan seorang ibu dan anak yang menyatu dengan alam, menghadapi berbagai
tantangan, hingga akhirnya menemukan harmoni di tengah bentangan tradisi dan
keajaiban. Film ini menyelipkan elemen edukasi, pelestarian budaya, hingga
pesan moral yang relevan dengan kehidupan masyarakat modern.
Sebagai direktur eksekutif, Suaif
Djafar, menegaskan, bahwa tujuan utama film ini adalah untuk mengangkat potensi
daerah, baik dari segi budaya maupun pariwisata.
“Ini bukan hanya cerita, tetapi juga promosi
budaya dan wisata lokal,” ujar Suaif dalam podcast bersama JMSI, Sabtu, 11
Januari 2025.
Dikatakan, pentingnya menjaga
kelestarian alam yang menjadi salah satu tema utama film ini.
Salah satu daya tarik film ini
adalah komitmennya melibatkan 100% tenaga lokal dalam proses produksi, mulai
dari pemeran, kameramen, hingga kru di belakang layar.
"Kami ingin memberi ruang
kepada anak-anak daerah untuk berkarya dan menunjukkan kualitas mereka. Tidak
ada kru luar, semua dikerjakan oleh anak-anak lokal," tambah Suaif.
Proses pengambilan gambar
dilakukan di berbagai lokasi eksotis di Sulawesi Tengah, seperti Kota Palu dan
daerah sekitarnya, yang menghadirkan lanskap alam yang memukau. Keindahan
lokasi ini menjadi salah satu elemen utama yang ditonjolkan untuk
memperkenalkan kekayaan alam Indonesia kepada masyarakat luas.
Film ini tidak hanya menyuguhkan
hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang mendalam.
“Budaya lokal adalah aset yang harus kita
jaga. Film ini menjadi sarana edukasi untuk mengingatkan pentingnya harmoni
antara manusia, budaya, dan alam,” jelas Suaif.
Pesan ini sejalan dengan misi
film yang ingin mengangkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian
budaya dan lingkungan.
Dalam perjalanan produksinya,
"Uwentira" mendapat dukungan dari pemerintah daerah, termasuk
rekomendasi gubernur dan sejumlah tokoh masyarakat. Namun, tantangan tetap ada,
terutama dalam hal teknis. Dengan keterbatasan alat dan anggaran, tim produksi
menunjukkan semangat dan dedikasi tinggi untuk menghasilkan karya berkualitas.
Suaif Djafar menekankan
pentingnya dukungan lebih besar dari pemerintah dan industri film untuk
karya-karya lokal.
"Kami berharap ada ruang
lebih banyak bagi film daerah untuk berkembang, termasuk akses ke
bioskop-bioskop nasional," ungkapnya.
Film "Uwentira"
dijadwalkan tayang pada 13 Maret 2025 di XX1, bertepatan dengan momen liburan
sekolah dan bulan Ramadan. Pemilihan tanggal ini diharapkan dapat menarik
perhatian penonton dari berbagai kalangan, terutama anak muda yang menjadi target
utama film ini.
Suaif Djafar berharap
"Uwentira" tidak hanya menjadi film yang menghibur, tetapi juga
menginspirasi daerah lain untuk terus berkarya dan menggali potensi lokal.
“Film ini adalah bukti bahwa
dengan semangat, kreativitas, dan kerja keras, kita bisa menghasilkan karya
yang luar biasa,” tutupnya.
"Uwentira" adalah
sebuah perayaan budaya dan alam Indonesia. Mari kita dukung karya anak bangsa
ini dan menyaksikan keindahan cerita yang mengangkat kearifan lokal Sulawesi
Tengah ke panggung nasional. (*)
Sumber : DISINI

0 comments:
Post a Comment